Site icon supaya.id

Di Singapura Tanpa EZ Link

Suasana jalan di Singapura

Tulisan kali ini saya buat untuk berbagi pengalaman liburan terakhir saya waktu ke Singapura. Bagi yang sudah pernah ke Singapura sebelumnya dan sudah tau hal ini jangan anggap norak ya, karena siapa tau ada yang belum pernah ke Singapura. Terakhir saya mengunjungi negara tetangga yang ukurannya hanya sebesar kabupaten di Indonesia ini tahun 2019 sebelum covid. Setelah kesana lagi ternyata banyak yang sudah berubah.

Yang paling mencolok yang saya rasakan adalah hilangnya box-box petugas imigrasi di bandara yang berubah menjadi mesin otomatis yang akan memindai wajah kita sebelum akhirnya bisa melewati pintu otomatis. Memang sudah canggih namun untuk saya yang membawa dua balita ini agak merepotkan. Alhasil waktu itu istri dan satu putri saya tertahan dan harus mengikuti prosedur imigrasi secara tradisional. Untungnya waktu itu sudah mengisi data Singapore Arrival Card (SGAC) melalui aplikasi MyICA. Lebih jelasnya bisa baca di https://www.ica.gov.sg/.

Area imigrasi di Singapura (foto koleksi pribadi)

Jalan-jalan di Singapura itu menurut saya sangat mudah. Kita hanya butuh paspor saja sebagai syarat masuknya. Luas negaranya kecil sehingga orang sering menyebutnya sebagai negara kota dengan fasilitas transportasi umumnya yang sangat baik dan murah untuk ukuran mata uang penduduknya. Kalau kita konversi dengan mata uang kita, pastinya jadi tidak murah ya. Naik transportasi umum di Singapura tidaklah sulit. Bahkan bagi yang pertama sekalipun. Pilihan moda transportasi umumnya ada Kereta (MRT dan LRT) yang menjangkau seluruh wilayah Singapura dan juga ada Bus yang selalu datang tepat waktu.

Kereta-kereta di Singapura sangat terawat dengan baik, dan dari beberapa kali menggunakannya saya jarang menemui gerbong kereta yang penuh sesak seperti yang sering kita lihat di Indonesia bahkan Jepang. Mungkin karena pada dasarnya penduduknya tidak banyak dan tersebar dengan pilihan moda transportasi yang bervariasi. Seluruh tempat-tempat wisata dan icon-icon di Singapura terjangkau dengan transportasi publiknya jadi tinggal mempelajari peta dan rutenya saja kita bisa menuju tempat-tempat yang ingin kita kunjungi dengan mudah.

Membayar Tiket Kereta/Bus di Singapura

Pembayaran tiket kereta atau bus di Singapura semua sudah menggunakan cashless. Ada sebuah kartu yang digunakan untuk membayar tiket transportasi oleh wisatawan apabila berkunjung ke Singapura. Namanya Ez-Link. Biasanya setelah kita sampai di Singapura kita membeli kartu ini dan mengisi ulang saldonya. Cukup dengan tapping kartunya pada saat memasuki stasiun atau bus kita sudah dapat menaiki kereta atau bus sesuai dengan tujuan. Jangan lupa untuk tapping kembali saat keluar. Kita dapat mengisi ulang kartu apabila saldonya telah habis di beberapa stasiun atau convenience store seperti seven eleven. Setidaknya itu yang saya ingat di tahun 2019.

Namun di liburan saya kali ini di tahun 2024, saya tidak lagi menggunakannya Ez Link untuk membayar transportasi. Entah berlakunya sejak tahun berapa, sekarang kita cukup melakukan tapping dari kartu debit/kredit berlogo visa untuk membayar kereta atau bus. Berhubung kartu yang saya gunakan berlogo visa, namun logo mastercard juga dapat berfungsi. Tapi tidak cukup dengan logo tersebut, kartu juga harus memiliki fitur NFC (Near Field Communication) di kartunya. Logo NFC ini biasanya ada di kartu menyerupai bar wifi.

Membayar tiket dengan kartu kredit (foto koleksi pribadi)

Ya tentunya harus ada saldonya juga ya. Biayanya sama saja kok apabila menggunakan EZ Link, cuma nanti akan terkonversi ke rupiah dan didebet dari rekening atau kartu kredit kita. Dengan fitur ini, cukup memudahkan saya melakukan transaksi selama di Singapura. Tidak perlu membuat kartu tambahan dan kita dapat memantau penggunaannya melalui mobile banking. Namun kita perlu waspada apabila menggunakan jenis kartu ini untuk bertransaksi karena transaksinya tidak memerlukan verifikasi pin sehingga akan berisiko apabila kartu hilang dan jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Jadi tetap waspada dan berhati-hati. Kemajuan teknologi memang meberikan kita kemudahan namun juga disertai dengan risiko keamanan yang lebih tinggi. Kita sebagai pengguna atau konsumen harus cerdas dalam menggunakan produk dan jasa keuangan yang tersedia saat ini.

Itulah cerita sudut pandang saya, berikutnya akan saya ulas apartemen tempat saya menginap waktu di Singapura. Terima kasih sudah membaca, semoga memberikan inspirasi.

Exit mobile version