Site icon supaya.id

Investasi Paling Aman Apa Ya???

Investasi

Setiap kali saya melaksanakan kegiatan edukasi, pasti saja ada yang bertanya, “Investasi yang cocok untuk saya apa?”. Atau pertanyaan, “investasi yang aman itu apa?”. Pertanyaan ini dilontarkan oleh semua kalangan, lintas gender, lintas generasi, lintas profesi. Lantas apa jawabannya? Saya mencoba untuk menuangkannya dalam tulisan yang semoga saja cukup singkat.

Apa itu Investasi?

Berbagai pengertian investasi mudah kita dapatkan melalui website-website yang membahas tentang ini. Saya pribadi menyimpulkan investasi adalah suatu usaha menyimpan kekayaan dengan harapan nilainya akan bertambah saat menjualnya nanti. Di sini ada beberapa kata yang harus kita highlight yaitu :

  1. Usaha : betul investasi itu sebuah usaha karena kita harus mencari berbagai informasi agar kita tidak salah tempat. Kita juga harus mempelajari berbagai macam risikonya. Dan yang paling penting kita harus tau diri kita sendiri. Apakah toleran terhadap risiko tinggi, atau lebih memilih keamanan daripada keuntungan cepat namun berisiko.
  2. Menyimpan kekayaan : investasi itu kegiatan menyimpan kekayaan dalam hal ini bernilai material. Disimpan dalam bentuk berbagai macam. Bisa kita pindahkan atau tidak.
  3. Harapan : menyimpan harta kekayaan pasti ada harapan, pasti ada tujuannya.
  4. Pertambahan nilai : investasi tentu harus menambah nilai baik pada saat jangka pendek maupun jangka Panjang.
  5. Dijual : ya….investasi terus tidak dijual-jual namanya harta karun. Perihal kapannya, tergantung tujuan kita berinvestasi.

Investasi yang cocok?

Pertanyaan ini susah-susah gampang untuk dijawab. Karena pada dasarnya sebuah instrument investasi tidak akan cocok untuk semua orang. Banyak sekali factor yang mempengaruhi hal ini seperti latar belakang seseorang misalnya termasuk generasi apa? Seorang baby boomer biasanya menginvestasikan kekayaannya dalam bentuk fisik. Punya tanah luas yang entah dikelola atau tidak. Pokoknya punya tanah. Kenapa? Karena di jamannya mungkin tanah lebih murah ketimbang saat ini. Saat ini, investasi generasi milenial atau gen z, jauh bergeser. Karena perkembangan teknologi memungkinkan generasi saat ini berinvestasi dengan dana yang lebih sedikit pada instrument yang lebih beragam.

Faktor traumatis juga turut mempengaruhi pilihan investasi seseorang. Misalnya ada yang berinvestasi saham dan ternyata sahamnya anjlok dan nyangkut, menyebabkan seseorang trauma berinvestasi saham. Mungkin ada juga yang berinvestasi emas namun sayangnya emasnya bodong sehingga menimbulkan trauma saat berinvestasi emas lagi.  Masih banyak lagi factor lainnya namun tidak akan saya bahas karena akan kepanjangan.

Investasi Ideal

Saya pribadi memiliki pandangan sendiri tentang sebuah investasi yang ideal. Investasi ideal menurut saya harus memiliki kriteria ini :

  1. Terjangkau. Percuma investasi itu dibilang bagus dan menguntungkan kalau tidak dapat saya jangkau. Misalnya rumah di pondok indah. Wah..maaf itu tidak terjangkau untuk saya. Terjangkau ini mencakup materi dan imateriil. Terjangkau harganya, terjangkau juga ilmunya. Contoh lagi misalnya investasi di metaverse. Mungkin terjangkau tapi apakah kita mengerti?
  2. Terpantau. Investasi harus dapat kita pantau. Tidak harus dipantau fisiknya namun dapat dipantau harga dan nilainya sewaktu-waktu. Penting untuk kita mengetahui nilai investasi kita agar dapat mengambil strategi yang tepat apakah harus dijual atau ditambah pada kondisi tertentu.
  3. Konsisten (naiknya). Ya tentu saja harus naik nilainya meskipun mungkin akan ada masa nilainya turun namun trennya harus naik.
  4. Likuid : Investasi itu pada akhirnya akan dijual. Kemudahan sebuah produk investasi untuk dicairkan nilainya menjadi uang pada saat kita butuhkan harus menjadi pertimbangan sebelum memutuskan berinvestasi. Jangan sampai pada saat kita membutuhkan uang dan akan menjualnya malah tidak ketemu pembelinya.
  5. Legal : Pastinya produknya harus legal, ini tidak perlu saya jelaskan lagi ya apa artinya.

Jadi apa investasi yang cocok?

Dari kriteria itu, saya menyimpulkan investasi yang memenuhi seluruh kriteria itu adalah Emas. Sangat kuno bukan? Namun tidak dapat dipungkiri hingga saat ini, emas masih merupakan pilihan investasi yang paling banyak dipilih oleh warga planet bumi. Bahkan sebuah negara saja selalu memiliki cadangan emas selain cadangan devisa. Negara kita Indonesia memiliki cadangan emas moneter sekitar 70 ton.

Emas memiliki nilai yang konsisten naik. Tidak perlu melihat grafik yang sulit. Tanya saja sama Ibu atau nenek saat pertama kali membeli emas berapa harganya? Bandingkan dengan sekarang. Harga emas 5 tahun sebelum pandemic sekitar Rp400 ribu per gram dan naik menjadi Rp900rb pada saat pandemic di tahun 2020. Naik 2 kali lipat lebih. Meskipun nilai per gramnya naik terus, namun saat ini ada berbagai media yang memungkinkan kita memiliki emas dengan nilai yang lebih terjangkau bahkan bisa membelinya dengan cicilan.

Emas juga menurut saya mengikuti trend inflasi. Semakin tinggi inflasi semakin naik juga harga emasnya. Berbeda dengan instrument lain sebut saja saham atau reksadana. Apabila kondisi perekonomian sedang sulit dengan inflasi yang tinggi, IHSG biasanya akan terkoreksi. Namun di saat ini, harga emas justru akan berlaku kebalikan. Hal ini karena emas sebagai instrument investasi dipandang aman di tengah situasi yang tidak menentu. Di saat pasar sekunder mengalami tekanan, investor akan mengamankan uangnya di emas dengan menjual saham-saham di portofolionya.

Sebagai insturmen investasi, emas juga likuid dan nilainya setara dengan cash. Jika punya emas tinggal bawa ke took emas atau industry pergadaian jadilah uang tanpa harus repot-repot ngiklan. Bahkan emas tanpa sertifikatpun akan dengan mudah untuk dijual. Itulah jawaban saya setiap memperoleh pertanyaan tentang investasi yang cocok hampir untuk semua orang, gender, generasi, dan profesi. Minimal di antara portofolio investasi Anda, ada emas di dalamnya.

Tips

Namanya investasi pasti ada risikonya. Tidak terkecuali emas. Namun dibandingkan dengan instrument investasi yang lain, risikonya termasuk kecil. Risiko paling tinggi dari emas justru ada pada likuiditasnya. Karena likuid kita tidak segan akan menjualnya untuk memenuhi kebutuhan baik mendesak atau tidak. Berikut tips sebelum Anda memutuskan investasi emas

  1. Logam Mulia vs Perhiasan. Meskipun sama-sama emas, namun memiliki nilai berbeda. Harga jual dan belinya tentu berbeda. Perhiasan emas biasanya terdapat potongan harga mulai dari minimal 5% saat kita ingin menjualnya. Apalagi kita jual dalam jangka waktu yang pendek sejak dibeli pertama kali. Tidak salah kok berinvestasi di perhiasan, namun jangan seluruhnya dalam bentuk perhiasan, porsi perhiasan harusnya jangan lebih banyak dari logam mulia.
  2. Beli emas di tempat yang legal dan terpercaya. Hal ini penting untuk memperoleh emas yang berkualias dan mendapat layanan purna jual saat kita jual nanti. Jika membelinya melalui industri jasa keuangan cek terlebih dahulu melalui http://www.ojk.go.id
  3. Simpan di tempat yang aman. Emas karena bentuknya kecil (ya kecuali Anda beli yang ukuran 1 kg), perlu tempat yang aman untuk menyimpannya. Apabila di rumah rasanya tidak aman, cobalah menyimpan di Save Deposit Box di bank-bank sekitar Anda.
  4. Sabar. Emas itu baru kerasa perbedaan nilainya setelah bertahun-tahun. Kalaupun mendadak naik, itu pasti karena situasi dan kondisi yang ekstrim seperti contohnya pandemic dulu. Dalam rentang waktu berinvestasi tentunya akan ada masa-masa nilai emas akan turun, namun tidak perlu panik karena jika kita bicara trend, harga emas cenderung naik setiap tahunnya.
  5. Tentukan tujuan kenapa Anda berinvestasi emas. Karena sifatnya yang jangka panjang, investasi emas sangat cocok untuk rencana keuangan jangka panjang. Contohnya bagi pasangan yang baru menikah, emas cocok untuk menyiapkan uang Pendidikan anak kuliah nanti. Cocok juga bagi Anda yang ingin menabung untuk biaya naik haji nanti. Atau hanya sekedar menabung untuk mengumpulkan uang muka membeli rumah.

Kapan saat yang tepat membeli emas?

Jawabannya bukan saat harga emas turun, tapi saat Anda punya uang untuk membelinya. Emas akan tetap menjadi pilihan instrument sampai kapanpun. Melewati generasi dan zaman. Diwariskan dari satu dinasti ke dinasti berikutnya, dari satu rezim ke rezim  selanjutnya.

Itulah sudut pandang saya. Terima kasih telah membaca.

Exit mobile version