Site icon supaya.id

Maaf Nak…Kami Orang Tua Yang Egois

Sudah sekian hari si bungsu kami sakit. Untuk yang kesekian kalinya. Kami cuma bisa bilang, “namanya juga anak-anak, rentan sakit”. Dan seperti biasa, sakitnya juga selayaknya anak-anak balita. Pilek, panas, dan batuk. Yang paling menjengkelkan adalah tidak mau makan. Maunya Cuma minum susu saja. Sebenarnya ini harusnya kami syukuri, minimal ada asupan gizi yang masuk ke tubuh si bungsu. Kami sudah bawa ke dokter dan sedang menjalani rawat jalan. Obat-obatan dan vitamin sudah diberikan yang anehnya si bungsu mau meminumnya dengan semangat.

Namun karena belum kunjung membaik, dengan panas yang masih naik turun ditambah tidak pernah mau makan, menyebabkan tubuhnya makin lemas. Ditambah lagi cerewetnya itu, minta digendong terus. Ujian terberat kami ya memang pada saat anak-anak sakit. Capek dan Lelah,  emosi juga kadang tidak terkontrol. Kami anggap itu sebuah proses yang memang pasti dilalui oleh semua orang tua muda seperti kami. Benar kan???

Akhirnya kami memutuskan untuk ke dokter kembali meskipun belum jadwal control karena sebelumnya istri bilang gak terlalu cocok dengan dokter sebelumnya. Jadi maunya ke dokter yang biasanya berhasil menyembuhkan si bungsu kalau sakit. Waktu itu kami memutuskan untuk meminta rekomendasi rawat inap saja, karena kondisi si bungsu yang makin lemas akibat tidak ada asupan makanan selain susu plus selalu muntah setelah minum obat. Kami khawatir obatnya tidak ngefek karena selalu keluar lagi setelah diminum. Harapannya kalau dirawat inap, si bungsu akan diinfus dan obatnya akan berefek lebih cepat karena dimasukkan melalui jalur infus. Padahal kalau dipikir-pikir, diinfus itu pasti sakit banget ya apalagi untuk balita.

Setelah melalui proses pemeriksaan dokter yang agak lama, dokter merekomendasikan untuk dirawat inap dengan beberapa diagnose salah satunya dehidrasi. Kami akhirnya harus menunggu di ruang UGD untuk persiapan rawat inap. Mengisis berbagai macam formulir asuransi (thanks to insurance) untuk memperoleh kamar. Dan disinilah sisi keegoisan kami diuji. Ternyata kamar yang tersedia hari itu adalah kamar standar sharing dengan pasien lain. Dalam 1 kamar ada 2 pasien yang kebetulan saat itu sudah terisi.

Hmm…jujur selama ini kami belum pernah dirawat atau merawat anak di rumah sakit dengan kamar sharing. Membayangkannya saja kami merasa tidak nyaman. Bukan karena sombong, tapi fasilitas dari asuransi yang kami bayar seharusnya kamar yang kami peroleh di rumah sakit itu adalah kamar executive. Saat itu kami merasa tidak akan nyaman (sekali lagi kami itu adalah penunggu) kalau sharing dengan orang lain. Kamar mandi akan dipakai bersama. Kemudian akan tidur bersama orang lain di sebuah kamar dalam kondisi yang sedang tidak baik-baik saja.

Meskipun telah berusaha memperoleh kamar yang setidaknya satu kamar sendiri, namun ini bukanlah hotel. Ini rumah sakit. Bukan masalah uangnya tapi memang ketersediaan kamarnya begitu. Kami ditawarkan untuk tetap di kamar yang tersedia dan akan dipindah ke kamar sesuai pertanggungan keesokan harinya karena ada jadwal pasien pulang. Namun tidak ada jaminan pasien tersebut akan benar-benar pulang. Dokter juga berupaya untuk tetap merawat inap si bungsu karena kondisinya yang lemas. Jika tidak bersedia, diminta untuk mencari rumah sakit lain dan dirawat inap di sana.

Kami berunding kembali. Saat itu, kami berada di titik terendah. Capek jiwa dan raga. Apalagi yang akan menjaga nanti adalah istri yang masih dalam kondisi tidak sehat juga. Kami berpikir tidak akan bisa menempati kamar dengan orang tidak dikenal plus kita tidak tau sakitnya apa dalam beberapa hari ke depan. Kami juga tidak mau ke rumah sakit lain yang berarti harus memulai proses dari awal lagi yang belum tentu fasilitas dan pelayanannya sesuai yang kami harapkan.

Akhirnya kami mengambil keputusan untuk menunda rawat inap si bungsu malam itu. Kami harus memikirkan kesehatan kami juga. Kami juga harus memikirkan kewarasan kami juga. Si bungsu tentu tetap butuh kami baik-baik saja untuk tetap bisa merawatnya. Akhirnya dengan seluruh obat yang semestinya diberikan pada saat rawat inap, kami pulang dan berjanji apabila besok kondisi si bungsu belum membaik, kami akan membawanya ke rumah sakit lain untuk dirawat inap jika masih tidak tersedia kamar di rumah sakit pilihan kami.

Ya…kami memang egois. Kami lebih memikirkan kenyamanan kami sebagai penunggu si sakit. Kami lebih mementingkan kesehatan kami ketimbang kondisi si bungsu saat itu. Namun kami merasa juga layak untuk hal itu. Karena semua nyawa berharga, semua kesehatan bernilai sama. Percuma jika si bungsu sehat namun berganti menjadi kami yang sakit, akan lebih merepotkan lagi mengingat di bungsu punya kakak-kakak yang masih anak-anak juga. Kami mau tidak mau harus bertindak egois saat itu, kami menganggap bahwa kondisi si bungsu tidak terlalu parah karena masih merespon untuk bermain dengan kakak-kakaknya, Cuma ya itu lemas. Syukurnya si bungsu keesokan harinya membaik. Panasnya sudah normal dan sudah mau ngemil selain minum susu. Tidak muntah lagi (karena diberikan obat anti mual) sehingga obat yang diminum dapat memberikan efek maksimal.

Kami bersukur sekali karena si bungsu sudah sehat, meskipun kami merasa bersalah juga karena menjadi orang tua yang egois. Semua sudah kami pertimbangkan matang-matang beserta konsekuensinya. Mungkin di mata orang lain kami hanya mementingkan diri sendiri, namun kami juga tetap harus memikirkan diri kami sendiri. Ada yang harus kami urus selain si bungsu yaitu kakak-kakaknya. Tidak apa menjadi egois untuk kesehatan kita sendiri.

Itulah sudut panda saya…terima kasih sudah membaca.

Exit mobile version