Site icon supaya.id

Pemilu Telah Usai, What’s Next?

Image by ededchechine on Freepik

Perhelatan 5 tahunan negara kita yang sangat menguras emosi akhirnya telah usai. Bagaimana jagoan Anda? Apakah menang? Atau…..?? Tapi siapapun pilihan Anda di tanggal 14 Februari lalu, akhirnya kita akan kembali ke aktifitas kita seperti biasa. Tadinya mungkin sibuk war di medsos dengan orang-orang yang menjelek-jelekkan jagoan kita, sekarang harus kembali ke realita. Bekerja seperti semla bagi yang bekerja, atau kembali mencari pekerjaan bagi yang sebelumnya memang belum bekerja.

Pemilu setiap 5 tahun sekali ini memang benar-benar menguras energi dan emosi, tensinya sama saja dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Bedanya sekarang ini ada dua kubu, saya sebut dua kubu karena pendukung 01 dan 03 bersama-sama ingin menjatuhkan 02. Sebelum pemilu bahkan sempat diwarnai oleh huru-hara keputusan MK yang ditenggarai melanggar kode etik dan berimbas pada dikeluarkannya hakim MK bersangkutan. Sepak terjang presiden kita di akhir jabatannya juga benar-benar tidak terprediksi yang menyebabkan situasi politik dan pemerintah di Indonesia menjadi kurang kondusif namun menarik untuk disimak.

Saat ini kita sedang bersama-sama memantau hasil perhitungan pemilu yang dapat diakses di pemilu2024.kpu.go.id sekaligus kita dapat memberikan masukan kepada KPU apabila ditemukan kesalahan-kesalahan dalam penginputan data. Pemenang pemilupun telah kita ketahui baik dari hasil quick count maupun web KPU dengan persentase suara saat tulisan ini dipublis sudah mencapai 74%. Dengan telah diketahuinya pemenang pemilu lebih dini, kita saat ini sudah mulai melihat peta perpolitikan di Indonesia setelah Presiden dilantik di bulan Oktober 2024. Kita sudah dapat mengetahui siapa yang akan mendominasi parlemen, dan partai apa saja yang kemungkinan menjadi oposisi.

Jika 5 tahun terakhir pemerintahan kita seolah-olah sangat kuat karena legislatif isinya adalah partai-partai koalisi sehingga hampir tidak terjadi kontrol terhadap sepak terjang pemerintah. Mungkin nanti tidak akan semudah itu karena sepertinya partai pemenang pemilu akan menjadi partai oposisi. Sebenarnya hal ini sangat baik untuk menyeimbangkan antara fungsi Legislatif, Yudikatif, dan Eksekutif. Dengan adanya oposisi, kebijakan-kebijakan pemerintah tidak akan dengan mudah digoalkan dalam rapat anggaran nanti. Itulah demokrasi yang sebenarnya. Jadi program makan gratis bisa saja tidak dapat terlaksana apabila dijegal oleh partai oposisi. Namun tentunya semua keputusan yang dibuat di ketiga lembaga negara kita seharusnya dibuat dengan tujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Kita sebagai masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Paling sederhana adalah menjadi warga negara yang baik. Tidak membuat onar dan melanggar hukum. Membayar pajak (ini harus banget). Dan tentu saja kita dapat melakukan kontrol melalui beberapa jalur resmi yang disediakan oleh negara kita. Contohnya melalui Judicial Review untuk merubah undang-undang dan peraturan melalui MK, ataupun melaporkan berbagai masalah pelayanan publik yang kita temukan di lingkungan sekitar kita melalui lembaga seperti Ombudsman di masing-masing daerah.

Saya pribadi menghindari konflik selama proses pemilu, menghindari topik-topik yang sensitif saat ngobrol dengan teman atau tetangga bahkan keluarga sendiri. Karena prinsip saya pilihan itu adalah rahasia. Jangan sampai karena perbedaan pilihan ini, kita malah kehilangan keluarga, saudara, teman, pelanggan, bahkan pekerjaan. Tetaplah menjadi masyarakat yang rasional dan kritis.

Itulah sudut pandang saya. Terima kasih sudah membaca

Exit mobile version