FOMO dan Yolo akhir-akhir ini sering kita dengar. Namun apa sebenarnya arti dua kata itu? Dalam hidup ini, sering kali kita menghadapi permasalahan yang membuat hidup kita tambah runyam. Mulai dari masalah kesehatan mental sampai kesehatan keuangan. Beberapa orang menghadapi masalah-masalah tersebut kadang dengan menerapkan prinsip-prinsip yang mungkin bisa membantu menghadapi masalahnya. Atau paling tidak, merasa sedikit tenang meskipun masalahnya tidak menemukan jalan keluar. Membuat hidupnya terasa lebih mudah dan menyenangkan. Namun terkadang justru prinsip itulah yang akan mendatangkan masalah baru dalam hidup kita.
Pernah mendengar prinsip : Hidup untuk Makan? Ya ini prinsip yang saya sering dengar dari mereka yang hoby makan. Mungkin vlogger-vloger makanan seperti Nex Carlos atau vlogger mukbang seperti Tanboykun juga menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Sepertinya hidup mereka memang untuk makan. Ini tentunya membawa risiko untuk kesehatan mereka sendiri, selain mendatangkan pundi-pundi uang ke rekeningnya. Kebalikan dari prinsip ini ya Makan untuk Hidup. Anda menerapkan prinsip yang mana?
Selain prinsip tentang makanan di atas, saya juga sering kali mendengar beberapa istilah yang sering didengungkan oleh generasi muda jaman now. Meskipun mungkin bukan sebuah prinsip hidup, namun sepertinya menarik untuk dikulik apa maksudnya.
FOMO (Fear Of Missing Out)
Pernah denger anak-anak jaman now menggunakan istilah ini? Ini sebenarnya istilah untuk mengganti : “Gak Gaul Loe” atau “Ketinggalan Jaman” atau semacamnya. Istilah FOMO pertama kali diperkenalkan oleh seorang penulis Amerika bernama Paul McGinnis pada tahun 2003. Beberapa pihak memberikan pengertian FOMO, tapi alangkah lebih baik kalau kita menggunakan pengertian FOMO dari orang yang memperkenalkannya pertama kali
Sesuai dengan Handbook Paul McGinnis dengan judul “The Fomo Sapiens Handbook”, FOMO memiliki dua pengertian:
- Kecemasan yang muncul akibat persepsi, seringkali diperparah oleh media sosial, bahwa orang lain mengalami hal-hal yang lebih menyenangkan daripada hidup Anda
- Tekanan sosial yang muncul dari kesadaran bahwa Anda akan melewatkan atau dikecualikan dari pengalaman kolektif yang positif atau berkesan.
Dari dua pengertian tersebut FOMO terkait dengan persepsi dan inklusifitas. Persepsi bahwa kita mungkin ketinggalan kesempatan untuk mengalami hal-hal yang menyenangkan. Misal ada diskon di sebuah mall dan orang-orang yang memperoleh diskon tersebut mempostingnya di media social, kita merasa cemas tidak kebagian. Ada juga misalnya orang-orang sudah berburu tiket untuk nonton konser Taylor Swift dan Anda ikut-ikutan padahal tidak terlalu tau lagu-lagunya hanya karena takut jika tidak ikut menonton taylor swift. Ada yang merasa begitu gak?
FOMO dapat berujung pada masalah namun juga dapat berarti positif. Misalnya FOMO tentang sebuah kursus yang bermanfaat untuk mengasal keterampilan kita. Jadi tidak apa FOMO asal milih-milih. Jika kita merasa tidak terlalu penting untuk melewatkan sesuatu, ya biarin aja. Jika sedikit-sedikit FOMO hidup kita akan menjadi penuh kecemasan dan ketegangan.
YOLO ( You Only Live Once)
Ibarat Ayam dan Telur. Duluan mana?
Manakah yang lebih dulu istilah YOLO atau FOMO? Kalau dari istilahnya dan dari yang saya baca-baca, YOLO merupakan sebuah quote oleh Frank Sinatra pada tahun 1937. Namun jika kita search di google dengan keyword : “Who first said you only live once?” akan muncul jawaban berikut:
“Dalam dramanya Clavigo pada tahun 1774, Johann Wolfgang von Goethe menciptakan frasa “man lebt nur einmal,” yang berarti “kamu hanya hidup sekali.” Johann Strauss II kemudian menggunakan frasa ini delapan dekade kemudian sebagai judul salah satu waltznya”
Terminologi YOLO bahkan muncul dalam kamus online https://dictionary.cambridge.org/ dengan pengertian :
“used,especially on social media, to mean that you should do things thatare enjoyable or exciting, even if they are silly or slightly dangerous“
Kalau disimpulkan, YOLO ini mengacu pada prinsip hidup yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dalam hidup ini. Cenderung terkesan instan dan aji mumpung.
Hidup ini cuma sekali jadi nikmati sajalah dan santai saja. Hidup Cuma sekali…silakan lanjutkan sendiri. Semua terasa benar ya. Namun sangat berbahaya jika kita mengarahkannya ke hal-hal yang negative dan merugikan diri sendiri. Tidak ada yang salah dengan istilah ini jika kita membawanya ke hal yang positif. Hidup Cuma sekali ya janganlah berbuat yang bukan-bukan. Hidup Cuma sekali berusahalah agar kita bisa menjadi kaya raya dan berguna bagi orang lain, minimal gak nyusahin orang.
Menghindari FOMO dan YOLO
YOLO Sapiens menurut saya melahirkan FOMO Sapiens. Karena hidup cuma sekali, jadi jangan sampai ketinggalan. Wah..dobel impact banget kan? Pengertian FOMO dan YOLO akan tergantung dari persepsi kita masing-masing. Masih berdasarkan Handbook milik Paul Macginnis tadi, jika kita ingin menghindari efek merugikan dari FOMO dan YOLO ini, terapkan pertanyaan-pertanyaan berikut sebelum mengambil tindakan :
- Apakah kesempatan ini benar-benar tersedia untuk saya? Apakah saya punya waktu, uang, dan kemampuan untuk mewujudkannya?
- Apakah keinginan saya untuk ikut serta karena ekspektasi realistis tentang apa yang akan terjadi, atau justru hanya berdasarkan pada imajinasi saya?
- Apakah saya melakukan ini karena saya benar-benar ingin melakukannya, atau karena semua orang melakukannya?
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut setiap kali kita melihat postingan seseorang di media sosialnya, kita akan terhindar dari tren ikut-ikutan. Secara tidak langsung kita juga telah menyelamatkan keuangan kita sendiri atau malah mungkin yang lebih penting, menyelamatkan masa depan kita.
Itulah sudut pandang saya, terima kasih sudah membaca. Bagaimana sudut pandang Anda?? Tulis jawaban di kolom komentar.

