Mungkin kalimat itu pernah terlintas dalam pikiran Anda apabila ada yang menawari Anda investasi Saham. Karena kata orang investasi saham itu susah, mahal, ribet, dan untungnya lama. Tidak semua salah, tapi tidak semua benar juga. Sebelum lebih jauh, apakah Anda tau apa itu investasi saham?
Untuk pengertian investasi, dapat Anda baca dalam tulisan saya sebelumnya di sini https://www.supaya.id/investasi-hingga-akhir-jaman/. Tapi jangan kedistract dengan tulisannya ya karena itu bisa membuat Anda akan memilih jenis investasi yang lain ketimbang saham. Saham adalah bukti kepemilikan suatu perusahaan. Ya..sesimpel itu. Dengan memiliki saham sebuah perusahaan, Anda sudah bisa tercatat sebagai pemiliknya meskipun kepemilikannya hanya 0 koma sekian persen dari total jumlah saham yang ada di perusahaan. Nah saham yang kita bicarakan sekarang adalah saham-saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, istilahnya emiten yang sahamnya bisa kita beli melalui Bursa Efek Indonesia. Ada lebih dari 800 perusahaan terdaftar yang ciri-cirinya ada Tbk. di belakang namanya. Dulu saat saya belum mengerti apa itu Tbk saya pikir perusahaan tersebut adalah perusahaan tembakau karena saya pernah melihatnya di sebuah bungkus rokok.
Kita dapat membeli saham emiten-emiten ini melalui perusahaan efek yang terdaftar di OJK. Silakan kunjungi website idx.go.id untuk mengetahui daftar perusahaan efek tersebut. Tapi saya tidak akan membahas tentang bagaimana cara mendaftar atau membeli saham, biar itu menjadi tugas para manajer investasi atau petugas di perusahaan efek saja. Yang kita akan bahas adalah pernyatan di atas. Untuk memulainya saya akan membawa anda kembali ke jaman pandemic, sebuah pengalaman yang selalu saya ceritakan apabila ada yang bertanya tentang : kapan saat yang tepat untuk membeli saham..
Kondisi Saham Saat Pandemi
Di awal tahun 2020, tentu masih ingat semua saat itu dunia sedang gonjang ganjing karena merebaknya sebuah virus bernama Corona. Menyebar dari China kemudian ke Eropa dan akhirnya ke seluruh dunia. Termasuk Indonesia??? Owh..tunggu dulu. Di Indonesia virus corona agak terlambat masuknya karena mungkin urusan birokrasi iimigrasinya yang sulit, jadi pemerintah pada saat ini membantah bahwa corona sudah masuk di Indonesia. Bahkan rakyat Indonesia menjadikan corona ini sebagai bahan becandaan. Ada lelucon yang dilontarkan bahwa masyarakat Indonesia kebal dengan corona karena sudah terbiasa makan rodamin, air sungai, bahkan formalin. Namun Indonesia tidaklah special, kita sama saja dengan negara lain yang tidak kebal dengan corona.
Saat pemerintah sudah mengakui corona masuk di Indonesia, kemudian diambil beberapa langkah antisipatif salah satunya melalui pembatasan aktifitas masyarakat. Hal ini tentunya sangat berpengaruh pada perekonomian Indonesia. Mall tutup, jalanan sepi, sekolah libur, tempat wisata juga sepi. Perekonomian melambat. Hal ini akhirnya berimbas pada pasar modal Indonesia. Saat itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia menyentuh titik terendahnya di angka Rp4.194 sejak tahun tahun 2015 yang turun dari Rp6.329 di akhir 2019 atau turun lebih dari 33% hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan. Penurunan ini sangat tajam dan tidak sering terjadi. Untuk tau perkembangan IHSG dapat mengunjungi situs http://idx.co.id
Dengan turunnya IHSG sedalam itu, tentu banyak saham-saham di bursa efek yang harganya juga terjun bebas. Jika bertanya kapan saat yang tepat untuk berinvestasi saham, jawabannya adalah pada saat itu. Saya ingat sekali waktu itu sedang mengambil kursus Bahasa Inggris di EF, rencananya sebagai persiapan saya untuk kuliah ke luar negeri (ini gak jadi). Ada seorang teman kursus yang penasaran ingin berinvestasi saham, akhirnya saya arahkan untuk membuka rekening saham di sebuah perusahaan efek. Singkat cerita, saat rekening sahamnya sudah selesai, dia bertanya beli saham apa? Ini pertanyaan yang biasanya akan sulit dijawab pada situasi normal, namun di situasi pandemic justru menjadi sangat mudah. Tinggal capcipcup kembang kuncup, kita akan dengan mudah dapat memilih saham yang menguntungkan.
Saham-Saham Berjatuhan
Pada saat periode pandemic, penurunan harga saham terjadi hampir di seluruh emiten. Hanya ada beberapa emiten saja yang anomaly seperti emiten farmasi atau produk/alat kesehatan karena di saat pandemic produk perusahaan tersebut yang paling dibutuhkan. Saham-saham perusahan keuangan seperti BRI, BCA, Mandiri, BNI mengalami terjun bebas seperti dalam table berikut :
| Saham | Harga/Lembar Sebelum Pandemi | Harga/Lembar Saat Pandemi | Penurunan |
| BRI | 4.322 | 2.185 | 49,44% |
| BNI | 3.962 | 1.820 | 54,06% |
| Mandiri | 3.875 | 2.230 | 42,45% |
| BCA (harga setelah stock split). | 6.695 | 4.735 | 29,27% |
Tidak hanya saham perusahan jasa keuangan, saham perusahaan konstruksi, consumer good, komunikasi, dan pertambangan juga mengalami hal serupa. Kita ambil saja contoh Indofood, Jasa Marga, Astra, Antam, Adaro, dan Telkom seperti table di bawah ini.
| Saham | Harga/Lembar Sebelum Pandemi | Harga/Lembar Saat Pandemi | Penurunan |
| Indofood | 7.925 | 5.750 | 27,44% |
| Astra | 6.925 | 3.780 | 45,41% |
| Antam | 835 | 374 | 55,20% |
| Adaro | 1.580 | 745 | 52,84% |
| Jasa Marga | 5.300 | 2.690 | 49,24% |
| Telkom | 3.900 | 2.880 | 26,15% |
Ibarat kata, saat itu sedang ada diskon besar-besaran di pasar modal Indonesia. Saham-saham tersebut di atas rata-rata adalah saham Blue Chip atau masuk dalam LQ45 yang sering diperdagangkan di bursa efek. Turunnya harga saham emiten tersebut bukan karena fundamental yang buruk namun karena kondisi ekonomi Indonesia dan dunia yang memang sedang tidak baik-baik saja.
Kembali ke pertanyaan teman saya tersebut, saat itu saya menanyakan dia punya uang berapa untuk membeli saham, Namanya juga mahasiswa waktu itu dia hanya punya uang sekitar 500 ribu rupiah. Akhirnya saya rekomendasikan saja untuk membeli saham ANTAM sebanyak 10 lot atau 1.000 lembar senilai 374.000. Dan terjadilah transaksi itu.
Saham Naik Lagi
Seiring berjalannya waktu, kondisi perekonomian Indonesia masih belum pulih benar. Namun IHSG sudah menunjukkan pembalikan di bulan Juni 2020 dan terus berlanjut hingga akhir 2020 dengan IHSG saat itu sebesar Rp5.979. Belum ke angka semula sebelum pandemic namun sudah mendekati. Bagaimana kabar saham-saham emiten di atas? Berikut gambarannya:
| Saham | Harga/Lembar 20 Maret 2020 | Harga/Lembar 30 Desember 2020 | Kenaikan |
| BRI | 2.185 | 4.068 | 86,17% |
| BNI | 1.820 | 3.087 | 69,61% |
| Mandiri | 2.230 | 3.162 | 41,79% |
| BCA | 4.735 | 6.770 | 42,97% |
| Indofood | 5.750 | 6.850 | 19,13% |
| Astra | 3.780 | 6.025 | 59,39% |
| Antam | 374 | 1.935 | 417,27% |
| Adaro | 745 | 1.430 | 91,94% |
| Jasa Marga | 2.690 | 4.630 | 72,11% |
| Telkom | 2.880 | 3.310 | 14,93% |
Dapat dilihat bahwa semua saham yang pada masa pandemic harganya turun, di akhir tahun 2020 atau hanya 9 bulan berselang (padahal pandemic sedang puncak-puncaknya), harga saham emiten tersebut telah naik kembali. Bahkan Antam, efek pantulnya paling tinggi yaitu 4 kali lipat lebih. Artinya apa? Uang teman saya yang sebesar 374.000 di bulan Maret telah menjadi 1.935.000 hanya dalam waktu kurang dari setahun saja. Tentu dia senang tapi sekaligus menyesal…karena tidak mau membeli saham Antam lebih banyak lagi. Katanya seandainya dia tau bakal begini, dia akan menggadaikan motornya dan membeli saham antam. Saya hanya berkata : sekalian aja gadaikan rumah bapakmu. Hahahaha.
Yang Terpenting Adalah Momentum
Jadi…pembaca yang beruntung, untung rugi di investasi saham itu tergantung momennya. Tergantung timingnya kapan Anda membeli sahamnya dan kapan Anda menjualnya. Banyak juga kok yang boncos pada saat pandemic karena telat masuk atau keluar, namun banyak juga yang untung berlipat di kala pandemic karena berhasil mendapat momen yang tepat. Bayangkan saja jika punya 1 Milyar saat itu menjadi 4 Milyar kalau kita beli saham antam. Eh 1 Triliun saja deh biar jadi 4 Triliun… wah wah kok jadi menghayal.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa waktu tidak dapat diputar kembali, benar. Namun siklus dapat berputar. Musim dapat kembali. Demikian juga siklus kejatuhan pasar modal dunia dan Indonesia juga mungkin akan terjadi lagi. Berdasarkan trend pasar modal di Indonesia dan di dunia, ada siklus 9-10 tahunan yang selalu terjadi sesuatu dengan efek menjatuhkan pasar modal. Tinggal dihitung saja kapan akan terjadi kembali sejak pandemi. Di saat itulah CASH IS THE KING. Siapa yang punya uang, dialah yang akan memiliki kesempatan untuk meraih untung di pasar modal. Klise namun itulah kenyataan yang harus kita terima di dunia ini. Siapkanlah diri Anda (baca: uang Anda) dari sekarang.
Demikian sudut pandang saya. Terima kasih sudah membaca.

