Untung Punya Asuransi

Asuransi
Cerita Pendek Edukasi Keuangan KeluargaLeave a Comment on Untung Punya Asuransi

Untung Punya Asuransi

3 malam sudah akhirnya Si Tengah bisa kembali pulang. 3 hari saya menyebutnya masa bulan madu antara saya dengan putri kecil kedua saya karena opname akibat virus (atau bakteri?) salmonella. Orang lebih mengenal sebagai sakit tipus. Tebak-tebakan sama istri kira-kira kenanya di mana? Ya mana kita tau kan, namanya anak-anak yang sehat mainnya bisa apa saja dan di mana saja. Belum lagi anaknya juga sudah sekolah. Yang jelas gejala awalnya mulai lemas, nafsu makannya berkurang, kemudian badannya agak panas, dan kemudian muntah.

Kami sempat berpikir, anak ini masuk angin;  penyakit khas Indonesia untuk menyebut penyakit yang tidak jelas penyebabnya. Sebelas dua belas dengan saudaranya si panas dalam dan radang tenggorokan. Jadi pas ke dokter hari itu “Cuma” mendapat antibiotic dan obat penurun panas. Kondisinya sudah mulai baikan dan karena anaknya sangat semangat untuk sekolah, Si Tengah tetap bersekolah hari itu. Pulangnya istri dapat laporan dari gurunya bahwa Si Tengah mengeluh pusing di kelas. Sampai rumah kemudian muntah setelah makan sedikit.

Akhirnya ke dokter lagi untuk dicek, dan diputuskan untuk cek darah untuk memastikan. Jujur, setelah punya tiga anak, proses pengambilan darah dan pasang infus sepertinya sudah tidak terhitung berapa kali jumlahnya pernah saya alami. Sangat menyiksa menyaksikan tangan mungil mereka ditembus jarum suntik, itupun kalau percobaan pertama berhasil, biasanya untuk kasus bayi hal ini menjadi lebih sulit mau sepro apapun perawatnya. Singkat cerita proses pengambilan darah selesai dengan penuh haru biru. Tinggal menunggu hasil labnya yang sampai beberapa jam kemudian dengan hasil seperti sang virus bersarang di ususnya.

Karena Si Tengah sudah mulai menunjukkan penurunan kondisi seperti lemas dan makannya sedikit, dokter merujuk untuk dirawat inap hari itu juga. Ya kami akhirnya bagi tugas. Saya bawa ke rumah sakit dan jaga Si Tengah waktu opname, Istri stay at home karena ada balita anak ketiga kami yang belum bisa lepas dari Ibunya. Jadilah saya izin di kantor untuk WFH (Work From Hospital). Bersukurnya bos-bos saya memberi keleluasaan seperti itu sehingga saya tidak perlu cuti dan tetap masih bisa menjaga anak di rumah sakit.

Selama periode rawat inap ini, berhubung sakitnya menyerang pencernaan maka diet sehat sangat dianjurkan untuk pasien. Bagi papa/bunda yang anaknya punya penyakit tipus ini, harus benar-benar memperhatikan asupan makanannya. Makanannya yang bertekstur lembut seperti bubur atau nasi tim dengan bumbu yang tidak terlalu keras. Tidak boleh mengkonsumsi sayur-sayuran yang menyebabkan gas seperti kol dan sebangsanya. Buah yang boleh hanya pisang. Namun karena tifus ini mempengaruhi nafsu makan, kebayang seperti apa makan makanan yang hambar hampir tanpa rasa. Untuk itulah Si Tengah diinfus agar selain asupan makanan juga ada yang langsung ke darah. Obat-obat hampir semua melalui infus.

3 malam menemani Si Tengah di rumah sakit, membuat rasa sayang saya kepadanya semakin besar. Melihat tubuh kecilnya dimasukkan berbagai jenis obat, diinfus, bahkan ada masa dia harus melalui anus karena sembelit, membuat hati saya sebagai seorang ayah sangat tersiksa. Ya..meskipun kadang saya ngomel juga karena tiap 2 jam dia minta pipis. Oh ya, efek dari tifus ini di pencernaan adalah bisa jadi diare atau malah sembelit. Jika diare mungkin akan ada sedikit pendarahan, oleh karena itu tidak boleh mengkonsumsi makanan yang menyerupai darah agar tidak membingungkan. Misal buah naga, cenderung mengakibatkan feces menjadi berwarna merah, akan sulit mendeteksi apabila terjadi pendarahan.

Di hari keempat, setelah pengambilan darah kedua, akhirnya virusnya melemah. Dan dokter memutuskan kalau kami sudah boleh pulang hari itu. Kami bersukur bisa melewati hari-hari yang cukup melelahkan ini dan akhirnya dapat berkumpul kembali bersama keluarga di rumah. Dan detik-detik inilah yang biasanya membuat saya gelisah : Saatnya Bayar Tagihan Rumah Sakit. Meskipun di awal opname, sudah terkonfirmasi bahwa biaya kamar dan lainnya tercover oleh asuransi, namun saya tetap khawatir apabila ada tagihan yang tidak tercover. Biasanya vitamin-vitamin dan obat dengan bahan herbal.

Setelah konfirmasi, akhirnya seluruh biaya selama 4 hari 3 malam di rumah sakit tertanggung oleh pihak asuransi kecuali biaya materai. Saya masih sempat protes juga, kok rumah sakit membebankan materai sebesar 12.000. Padahal kan materainya sekarang semua 10.000. Mungkin mas-mas kasir berpikir : “bapak ini udah tercover semua tapi Cuma bayar 12 ribu aja protes”. Ya kalau bisa zero cost kenapa harus bayar kan? Biayanya yang tidak sedikit membuat saya sangat bersukur memiliki asuransi. Sakit itu biayanya memang mahal. Apalagi sebagai kepala keluarga dengan 3 orang anak, asuransi sangat memudahkan hidup saya. Dari proses lahiran, imunisasi, sampai sakit seperti yang Si Tengah alami. Jika saya total biaya-biaya apabila saya tidak punya asuransi, itu sangat banyak menguras tabungan (kalau ada saldonya). Jumlahnya jauh lebih besar ketimbang bayar premi bulananya.

Untuk Ayah/Bunda yang saat ini mungkin sedang merencanakan punya momongan mau 1,2 atau 3 atau bahkan lebih, siapkan dana untuk asuransi kesehatan. Tidak perlu yang mahal, saat ini sudah banyak pilihan produk asuransi dengan premi dan harga yang terjangkau, baik produk asuransi umum ataupun asuransi program pemerintah seperti BPJS itu sudah cukup mengurangi beban kita apabila terkena musibah. Ada sebagian masyarakat yang berpikir bahwa asuransi itu buang-buang uang. Kalau menurut saya asuransi itu bagian dari bersedekah.

Jika kita tidak pernah klaim asuransi, kita harusnya bersukur yang artinya kita selalu dalam keadaan seha-sehat saja. Lantas rugi dong kita bayar premi?? Premi yang kita bayarkan, aka juga untuk mengcover biaya rumah sakit seseorang di belahan bumi yang lain. Bayangkan saja jika premi kita sebulan cuma 300 ribu namun sekali rawat inap bisa sampai belasan juta, dapat dari mana sisanya?? Ya dari pemegang polis yang lain. Itulah kenapa saya bilang bahwa ikut asuransi ini sebenernya sekalian beramal.

Intinya lebih baik kita menjaga kesehatan diri sendiri dan keluarga. Karena sakit itu mahal. Kita akan mengorbankan waktu dan kesempatan apalagi sakit, uang bisa dicari (meskipun susah) tapi waktu dan kesempatan yang terbuang karena sakit tidak akan tergantikan.

Itu sudut pandang saya. Terima kasih sudah membaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top