Nenek Penjual Pisang

Pisang Susu
Cerita Pendek Edukasi Keuangan People SosialLeave a Comment on Nenek Penjual Pisang

Nenek Penjual Pisang

Pisang Susu
Pisang susu

Hari itu mendung menggelayut di arah tenggara. Itu adalah arah menuju kantor tempat saya bekerja. Sebenarnya saya bisa memilih mau bekerja dari rumah saja ketimbang ke kantor yang berisiko hujanan di tengah jalan karena saya ke kantor mengendarai motor. Tapi berhubung saya sudah siap rapi jali dan ada rencana pertemuan di kantor, saya tetap berangkat kerja sambil berdoa semoga tidak turun hujan, atau minimal hujannya pas saya sampai di kantor. Namanya doa kan boleh-boleh saja ya.

Di jalanan beberapa pengendara motor dari arah berlawanan terlihat menggunakan jas hujan. Namun ada juga yang tidak. Jadi saya pikir mungkin belum hujan, mereka cuma berjaga-jaga saja. Saya memutuskan melalui jalan pintas yang agak kecil karena biasanya jalan utama akan padat dan macet jika situasi sedang hujan. Di sebuah tikungan, gerimis kecil mulai menerpa wajah. Wah..sudah akan hujan, harus mencari tempat berteduh untuk mengenakan jas hujan. Namun saat itu konsentrasi saya justru tertuju pada seorang nenek di pinggir jalan yang sedang berjualan pisang.

Sekilas saat saya lewati pisangnya di atas sebuah meja di trotoar. Sang nenek berjongkok tidak jauh dari mejanya. Pisangnya saya tau betul jenis pisang susu. Karena kulitnya yang kuning dengan burik coklat. Saya sangat suka dengan jenis pisang susu seperti ini dari pada pisang susu dengan kulit kuning mulus.

BELI GAK YA?

Saya masih melajukan motor sekitar 20 meter, namun hati saya berkata, “kasihan nenek itu, kalau hujan dimana dia akan berteduh? Pisangnya mungkin tidak laku karena sebentar lagi hujan”. Dan saya langsung impulsive, menepi sebentar dan memutar balik. Ya saya mau membeli pisang nenek itu, agar neneknya cepat pulang sebelum hujan.

Melihat saya berhenti tepat di depan mejanya, sang nenek dengan semangat beranjak dari tempatnya jongkok dan menyapa saya. Saat itu saya melihat pisang yang dijual sudah cukup tua dan saya yakin rasanya pasti manis. Ada 3 sisir pisang. Saat saya tanyakan harganya, sang nenek menghitung jumlah pisang dalam satu sisir. Harganya dia sebut Rp37 ribu. Gerimis makin menjadi.

Saya bertanya, “ kalau semua jadi berapa?”

Sang nenek kembali menghitung semua pisangnya. Diapun menjawab, “92.000”. Saya kemudian mengambil uang selembar Rp100.000 dari dompet dan menyerahkannya ke sang nenek. Sang nenek menjawab tidak punya kembalian, dan saya bilang gak apa-apa, kembaliannya disimpan saja. Sejenak saya lihat wajah nenek tampak ragu, namun akhirnya dia memasukkan semua pisangnya ke dalam kresek merah dan menyerahkannya ke saya. Uangnya dia terima sambil mengucapkan terima kasih. Namun kemudian nenek itu berkata,” saya pernah mendapat uang yang tidak laku”.

Saya berusaha mencerna kalimat itu sambil menggantungkan pisang di bawah motor. “maksud nenek sempat dapat uang palsu?”, tanya saya meyakinkan diri.

Nenek itu menjawab, “ iya…tidak bisa untuk belanja”.

Saya terdiam sesaat dan berkata, “ uang saya itu asli kok, bisa untuk belanja”

Nenek itu hanya tersenyum simpul. Karena waktu makin mepet dan gerimis juga makin menjadi saya akhirnya tancap gas lagi menuju kantor. Di sepanjang perjalanan pikiran saya berkecamuk. Berbagai pertanyaan muncul.

Apakah nenek itu menganggap saya memberikan uang palsu?

Siapa yang tega pernah menipu nenek itu dengan uang palsu?

Atau jangan-jangan tempat dia berbelanja yang menipunya?

Bagaimana caranya mencegah agar nenek itu tidak mendapat uang palsu lagi?

Apakah nenek itu tau caranya membedakan uang palsu?

Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam pikiran sampai saya tidak sadar bahwa awan hujan telah berganti dengan sinar matahari yang hangat. Gerimis telah menghilang entah kemana. Wah beruntungnya saya, mungkin niat baik saya membeli pisang nenek itu telah mencuri hati sang alam sehingga sayapun sampai kantor tanpa kehujanan.

EDUKASI

Saya masih memikirkan  nenek itu sampai di kantor bahkan hingga tulisan ini saya buat beberapa minggu setelahnya, semoga saja dia tidak bertemu dengan orang-orang jahat dan mengatakan bahwa uang yang saya bayarkan adalah uang palsu. Namun dalam perspektif yang berbeda, saya merasa bahwa masyarakat kita sangat rentan menjadi korban uang palsu. Aggaplah nenek tadi, bagaimana dia bisa memastikan bahwa uang yang dia terima bukan palsu? Edukasi  Bank Indonesia : “Dilihat, Diraba, Diterawang” mungkin tidak akan relevan dan dipastikan belum menyentuh nenek itu. Di saat seperti ini saya jadi berkesimpulan bahwa digitalisasi pembayaran itu memang sudah saatnya diterapkan, minimal generasi muda sekarang sudah mulai menggunakan pembayaran digital dalam bertransaksi sehingga pada saat tua nanti dia akan terhindar dari penipuan-penipuan uang palsu.

Terlepas dari itu semua, tindakan jahat seseorang ternyata berpengaruh terhadap penilaian seseorang terhadap niat baik orang lain. Saya senang nenek itu menjadi waspada, namun saya juga menjadi sedih karena nenek itu terkesan mencurigai saya memberikan uang palsu kepadanya. Bisa maklum sih, hujan-hujan borong semua pisang di pinggir jalan tanpa menawar, ngasi uang rapi seratus ribuan dan tidak minta kembalian. Trus langsung buru-buru pergi tancap gas (padahal karena kawatir kehujanan). Mungkin terlalu mencurigakan. Namun apa yang saya lakukan bukan sebuah kejahatan. Semoga nenek itu selalu sehat dan bertemu dengan pembeli yang berniat baik saat berjualan. Selain itu ya saya memang suka dengan pisangnya meskipun sampai di rumah saya kena omel istri buat apa beli pisang sebanyak itu. Dan saya hanya jawab, “he he”.

Terima kasih telah membaca sudut pandang saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top